Persaudaraan di Antara Idul Adha dan Tahun Baru Hijriah

Persaudaraan di Antara Idul Adha dan Tahun Baru Hijriah

Jumat, 12 Juni 2026 • Desa Waleure

Setelah lantunan salam penutup shalat Jumat mereda, langkah-langkah jamaah dari tiga masjid di Waleure bergerak menuju satu titik yang sama: sebuah rumah duka.

Di sana, bukan hanya kesedihan yang dipertemukan, tetapi juga persaudaraan yang kembali menemukan maknanya.

"Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu yang berselisih."

Rangkaian Kegiatan

Tahlilan

Acara diawali dengan tahlilan yang dipimpin oleh Ustadz Sidik Bachmid, Imam Masjid Baitul Ikhlas. Lantunan ayat suci dan doa-doa yang dipanjatkan mengingatkan bahwa setiap manusia akan kembali kepada Sang Pencipta.

Pembukaan Acara

Acara kemudian dibuka oleh Hakim Setiawan Hamid selaku pembawa acara, yang memandu seluruh rangkaian kegiatan dengan khidmat.

Sambutan Keluarga

Mewakili keluarga, Hi. Syafarudin Maddepungeng menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kehadiran masyarakat yang datang memberikan penghormatan terakhir serta menguatkan keluarga yang ditinggalkan.

Tausiyah

Acara inti diisi oleh Ustadz Fathul Mubin Bachmid. Beliau menegaskan bahwa persaudaraan adalah buah dari keimanan.

Innamal Mu'minuna Ikhwah. Orang-orang beriman itu bersaudara.

Karakter orang beriman bukan memperbesar jarak, melainkan menjadi jembatan yang mendamaikan saudara-saudaranya yang sedang berselisih.

"Memaafkan adalah melepaskan kesalahan dari lisan.
Mengikhlaskan adalah melepaskannya dari hati."

Pesan Persaudaraan

Ustadz Fathul Mubin mengingatkan bahwa saat ini umat Islam berada di antara dua momentum besar: selesainya Idul Adha dan semakin dekatnya Tahun Baru Hijriah.

Menurut beliau, Idul Fitri lebih ramai karena manusia relatif mudah untuk saling meminta maaf. Namun Idul Adha mengajarkan sesuatu yang lebih berat: mengikhlaskan.

Banyak yang mampu mengucapkan maaf, tetapi belum semua mampu mengikhlaskan. Di situlah pengorbanan batin sesungguhnya berlangsung.

Di tengah dinamika kontestasi pemilihan kepala desa Waleure, beliau mengajak masyarakat untuk tetap menjaga jalinan persaudaraan yang telah dibangun puluhan tahun.

Waleure adalah desa moderasi. Moderat dalam keberagaman pilihan, toleran terhadap perbedaan, dan ikhlas menerima keberagaman sebagai kenyataan kehidupan.

Karena pada akhirnya, pilihan boleh berbeda, pandangan boleh tidak sama, tetapi persaudaraan tidak boleh menjadi korban dari perbedaan tersebut.

Waleure, 12 Juni 2026

Merawat Persaudaraan • Menjaga Keimanan • Menumbuhkan Keikhlasan