Mengaku Unggul Bersyariat, Tapi Gagal Berserikat
Ketika simbol keagamaan tumbuh lebih cepat daripada solidaritas sosial, maka yang lahir bukan kekuatan umat, melainkan fragmentasi yang melemahkan.
Tidak sedikit kelompok atau komunitas yang bangga menampilkan identitas keislamannya melalui berbagai simbol dan praktik syariat. Namun, kebanggaan tersebut sering kali tidak diiringi dengan kemampuan membangun persatuan dan kerja sama.
Perbedaan pandangan yang seharusnya menjadi ruang dialog justru berubah menjadi sumber perpecahan, saling menyalahkan, bahkan saling menjauh. ⚠️ Akibatnya, energi yang seharusnya digunakan untuk membangun umat habis untuk mempertahankan ego kelompok masing-masing.
Padahal, ajaran Islam tidak hanya menekankan ketaatan individual terhadap syariat, tetapi juga pentingnya:
Keberhasilan menjalankan syariat seharusnya tercermin dalam kemampuan menghargai perbedaan, memperkuat solidaritas, dan bekerja sama demi kemaslahatan bersama.
💡 Ketika semangat bersyariat tidak melahirkan semangat berserikat, maka yang muncul hanyalah simbol keagamaan tanpa kekuatan sosial yang mampu membawa perubahan nyata.
Karena itu, ukuran keberhasilan tidak cukup dilihat dari seberapa kuat seseorang atau kelompok mengklaim diri sebagai pelaksana syariat.
Yang lebih penting adalah sejauh mana nilai-nilai syariat tersebut mampu membangun persaudaraan, memperkuat persatuan, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat.